Ad Code

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Ticker

6/recent/ticker-posts

{CERITA ISLAMI}: SEORANG SANTRI YANG TERJEBAK DALAM MASALAH INTERNASIONAL PART 3

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

 Disclaimer :  Disclaimer : Terima kasih kepada anda yang sudah mempercayakan kepada kami, terus ikuti laman blog kami agar terus merasakan pengalaman membaca cerita sesungguhnya. Dilarang untuk meng Copy Paste cerita tanpa seizin admin.

CAHAYA DUNIA, PART 3 : PENGAKUAN

Kami terbang menuju Amerika, dari kejauhan tampak anggota CIA yang menumpang pesawat Hercules Lockheed Martin C-130 milik Angkatan Udara Inggris, CIA akan mengawal pesawat kami agar dapat antisipasi apabila terjadi hal hal yang tidak diinginkan di pesawat, aku pun memberi kode lewat kedipan sinar laser bahwa pesawat kami telah take off. Di sebelahku tampak Kak Bani yang tertidur, suhu yang relatif dingin pada pesawat membuat kita sering merasakan kantuk. Ditambah dengan kursi yang pasti nyaman sangatlah sukar untuk terjaga ketika naik pesawat. Akhirnya aku juga ikut tertidur ,di dalam tidurku, aku masih bisa merasakan ayat dan Hadits tentang kebohongan terus menghantuiku. Ditambah rasa khawatir terhadap ibu dan Nina masih terngiang ngiang di benakku, Ya Alloh........Lindungilah mereka dari mara bahaya.

Sumber : Dokumen pribadi


Kami pun tiba di Bandara Internasional John Fitzgerald Kennedy, New York. Ketika sampai di gerbang kedatangan, banyak pria yang memakai jas ala ala kantoran duduk atau sekedar berdiri di sepanjang koridor kedatangan. Aku menduga salah satu dari mereka adalah anggota CIA yang mengawasi gerak gerik kita agar cepat terbaca, bagiku CIA terlalu cepat bergerak. Kak Bani pun menginstruksikan sesuatu kepadaku agar selalu waspada, karena diantara pengunjung bandara semua ini, pasti ada Agen Rahasia entah CIA atau dari Kepolisian yang sedang menyamar. Aku pun mengangguk tanda paham akan hal itu.

Sejurus kemudian, kami tiba di Markas Besar PBB. Sekilas bangunan tersebut mirip Istana Kepresidenan Bogor.........wkwkwkwk yang didominasi oleh warna putih, di depan bangunan tersebut telah berjaga beberapa anggota PSB Jepang. Kami dapat masuk ke Markas PBB dengan mudah karena anggota PSB memilikki akses kedalam markas. Di dalam markas, banyak sekali staf ataupun relawan PBB yang sedang bekerja. Di antara mereka bekerja pada divisi yang berbeda beda seperti contoh UNICEF,WHO,UNIFIL,dll. Kami pun diantar pada ruangan arsip, dimana banyak sekali brankas besi di ruangan itu. Rupanya disinilah data dari seluruh dunia disimpan, dan kemungkinan data soal kejahatan Internasional pun juga ada disini.

Kami pun sampai didepan sebuah brankas yang ditandai khusus, brankas itu terletak pada pojok ruangan arsip. Di sekeliling brankas itu diawasi oleh kamera CCTV, sehingga yang pasti apa yang ada di dalam brankas itu merupakan berkas penting yang dijaga keamanannya selama 24 jam. Tiba saatnya, watunya untuk membuka brankas itu. Kak Bani mengetikkan beberapa sandi dalam brankas tersebut, dari sandi tersebut tertulis kata LINUOR. Tak salah lagi dugaanku benar, orang yang selama ini kupercayai, diam diam menjerumuskanku dalam kasus serumit ini, aku sudah tahu jebakanmu. Ketika brankas itu terbuka, alangkah terkejutnya brankas itu kosong melompong tidak ada isinya.

“Appaaaa ? Mengapa tidak ada isinya ?, padahal di brankas ini tulisannya benar file number one “ Teriak Kak Bani terkejut.

“Bagus kan, akhirnya berkas itu tidak jatuh kepada tangan yang salah ? “ Kataku menanggapi Kak Bani.

“Kamu bicara apa sih, michael ?” Tanya Kak Bani keheranan.

“Jadi sebenarnya, orang yang kita lihat bertransaksi di Singapura kemarin, ialah pegawai Redaksi Al Jannah sendiri. Mereka memindah mindahkan berkas ke tangan orang lain agar tidak terendus keberadaannya oleh kelompok Musailamah, Namun akhirnya sama saja berkas itu jatuh kepada kelompok itu. Bukankah benar begitu bapak bapak sekalian ?” Terangku.

Seketika pegawai redaksi Al Jannah dan Anggota CIA yang sedari tadi menyamar sebagai staf  PBB membuka identitas asli mereka, dalam sekejap, Markas PBB penuh dengan anggota CIA dan Kepolisian New york. Para Agen PSB juga langsung kebingungan saat itu, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ?

“Jadi kau menyamar sebagai FBI agar dapat  menggunakan PSB Jepang sebagai alat untuk menemukan berkas nomor satu itu, Berkas itu rencananya akan dimusnahkan sehingga Al quran yang tidak sempurna di seluruh dunia tidak dapat diganti dengan yang baru. Lagipula bisnis anda tidak terdeteksi oleh pajak perdagangan Internasional, sehingga kau dan kelompokmu memaksimalkan cara agar usaha tersebut tidak bangkrut, bukankah begitu anggota Kelompok Musailamah ?” Terangku lagi.

“Jadi, kamu sudah kena hasutan CIA ya.......Michael. Kalau begitu tunjukkan buktinya, kalau aku adalah anggota kelompok Musailamah itu.” Remeh Kak Bani.

“ Pertama, saat pertama kali kita bertemu. Kau langsung memperkenalkan dirimu sebagai FBI, bukankah seorang agen rahasia harus merahasiakan identitasnya ?

Kedua, di Bandara Qatar.Kau melihat peristiwa ledakkan pada pesawat itu dengan tersenyum, padahal kau bisa dicurigai sebagai pelaku pemasangan bom. Aslinya kau senang melihat berkas Laporan dari negara lain dan sandi brankas ini musnah....kan ?”

Ketiga,  katamu sebagian Kelompok Musailamah beragama Non muslim. Saat kau kuajak untuk sholat Maghrib, kau menghindari hal itu.

Keempat, aku melihatmu dibisikkan sesuatu oleh orang asing ketika di Bandara Qatar. Tanpa sengaja terdengar kata LINUOR, dan kau mengetikkan kata tersebut pada brankas ini. Sehingga memang sudah lama kau dan kelompokmu telah mengantongi sandi brankas itu kan ?

Kelima, Kau panik melihat CIA yang menyergapmu. Padahal sebagai sesama anggota Intellijen bukankah dapat bekerja sama untuk menyelesaikan kasus ? Terlebih kau sudah terlanjur memfitnah bahwa CIA bekerja sama dengan kelompok Musailamah. Dan saat ini, namamu dan sindikatmu sudah ada di dalam daftar pencarian orang di Kepolisian Dunia. Bagaimana, apa analisisku kurang ? “ Jelasku sambil balik meremehkan Kak Bani.

“Baiklah, aku mengaku kalah. Akan tetapi tidak bagi revolverku.” Seketika Kak Bani mendekap dan menodongkan pistol kearahku.

“Aku tidak mau mengambil resiko dengan melibatkan remaja sepertimu ini, akan tetapi aku ingin orang lain menjadi korban agar dia merasakan apa yang kurasakan” Kata Kak Bani.

Sia sia saja, kalaupun kau membunuhku, itu berarti menguatkan kau sebagai terduga anggota kelompok musailamah. Lagipula, aku sudah tahu latar belakangmu melakukan bisnis ini. Orang tuamu adalah jurnalis yang meliput berita Pertikaian Moro di Filiphina kan ?” Tambahku.

“Diam kau, kau tidak akan bisa merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh orang tua. Aku benci islam, karena masyarakat islam telah membunuh orang tuaku yang tidak bersalah” Teriak Kak Bani.

“You wrong Beny, Your parents is The best journalist. You parents died from Police tear gas during the Moros fighting, Its just that the media at that time was deliberately close so as not to cause injury { Kamu salah Beny, orang tuamu ialah jurnalis terbaik. Orang tuamu meninggal karena gas air mata selama dalam pertikaian moro, Hanya saja media kala itu memutuskan untuk menutup berita itu agar tidak menimbulkan luka }” Kata kepala divisi CIA.

“Benar Kak Bani, Orang tuamu hanya melakukan tugas sebagai jurnalis saja” Tambahku.

“Cereeeeweeeet...........Aku benci kalian semua”DOOOOOOOORRR..............Kak Bani melepaskan tembakan dari revolvernya, untung saja meleset dan mengenai lenganku.

Disaat yang bersamaan,datanglah kawanan SWAT { Special weapons and tactics/Pasukan bersenjata khusus tentara elit Amerika } menyergap Kak Bani. Aku masih menahan rasa sakit lenganku akibat tembakkan itu, kemudian datanglah seorang relawan WHO yang berusaha menutupi lukaku dengan menggunakan mitella. Suasana pun sempat kondusif,akan tetapi semua berubah ketika datang seorang polisi sambil berteriak.....

“Inspector, we found several bombs will to be flame. Hopefully must save themselves { Inspektur,kami menemukan beberapa bom yang akan meledak. Diharap semua harus menyelamatkan diri segera }” Teriak salah satu anggota polisi.

BLAAAAMMMM...........BLAAAMMMMM.........Terdengar ledakan bom yang bersusulan dari masing masing pojok Markas PBB. Rupanya ini adalah rencana cadangan Kak Bani, Kalau dia tidak bisa mendapatkannya. Maka dia harus memusnahkan daftar itu dengan tempat penyimpanannya, memang benar benar licik orang itu. Suasana gedung menjadi tak kondusif, orang orang berlarian dan saling dorong karena panik, bahkan tampak beberapa tembok hancur akibat bom itu. Aku berusaha untuk lari sambil memboyong tanganku yang luka akibat tembakan itu, orang orang tampak berusaha menyelamatkan dirinya masing masing sehingga mereka tampak saling bertabrakan karena kebingungan.

Sumber gambar : https://pixabay.com/id/
photos/bangunan-kota-diterangi-2699520/


Tanpa kusadari, aku tersandung oleh puing puing gedung PBB yang akan runtuh. Kakiku lecet dan terjebak pada tali tali yang bergeletakkan di lantai, aku panik saat itu. Aku merasa tidak bisa untuk menyelamatkan diri, kepanikanku bertambah ketika salah satu puing yang hancur jatuh dan mengenai tabung gas. Tabung gas itu kemudian meledak dan membakar apapun yang ada didepannya, aku sedih akan hal ini.........apakah ini akhir dari hidupku ? Bagaimana ibu dan Nina nanti ? Ibu maafkan aku yang pendosa ini. Aku mencoba untuk meronta ronta berharap agar tali yang mengikat kakiku lepas, Namun aku sudah kehabisan tenaga, sudah tidak ada harapan lagi. Kemudian terdengar ayat itu lagi, ayat itu seolah menuntunku keluar dari masalah ini, dan akhirnya aku memejamkan mataku. SREEEET.........BLAAAMMMM, kudengar kabel kabel listrik putus dan mengalami konslet, Hingga akhirnya gedung itu meledak.

‘Leee.....bangun leeee......kamu nggak papa kan,Ya Alloh le” Teriak seseorang yang tidak asing kudengar.

Setelah kubuka mataku, tampak ibu dan keluargaku mengelilingiku. Dimana ini ? Apakah aku sudah mati ?, Aku pun berusaha mengingatnya, rupanya aku pingsan saat berada di Bangunan tadi. Petugas pemadam kebakaran menemukanku masih dalam kondisi bernafas dan dia membawaku ke Rumah Sakit, orang tuaku dipanggil ke Amerika setelah CIA melihat KTP dan Kartu Tanda Pesantren milikku. Tak lama kemudian, Kepala Divisi CIA datang dan mengatakan sesuatu.......

Don't move, your burns are 20% pretty bad. So actually Michael was caught in the Quran Smuggling case by the trade mafia. But, Michael is only a witness because he doesn't know what before. We promise to cover Michael's hospital and transportation because it works uncover this case and tell the CIA {Jangan bergerak,luka bakarmu sejumlah 20% cukup parah.Jadi sebenarnya Michael dijerumuskan pada kasus Penyelundupan Al quran oleh mafia dagang. Tapi,michael hanya sebagai saksi karena dia tidak tahu apa apa sebelumnya. Kami berjanji untuk menanggung biaya rumah sakit serta Transportasi Michael karena berhasil mengungkap kasus ini dan menceritakan pada CIA } Terang Kepala divisi CIA.

“Apakah itu benar le........?” Tanya ibu dan ayahku keheranan.

“Benar yah....bu......Sebenarnya mikail hanya ingin menelisik mengapa Al quran di Pondok Pesantren Mikail banyak ditemui kesalahan, padahal ponpes mikail terkenal akan pencetak para penghafal Al quranyang selalu menggunakan Al quran terbaik dari Redaksi Penerbit Al Jannah. Tetapi mikail malah terjerumus sejauh ini......” Jelasku pada orang tuaku.

“Ya sudaaah le........Ya Alloh.......syukur kamu selamat” Kata Ibuku bersyukur.

“Waahhhh.....Jadi kamu membantu menyelesaikan tugas kerja ayah sampai ke akar akarnya, hebat kamu Mikail ! “ Seru ayahku.

“Thanks to him, the Quran smuggling mafia who has been a fugitive from the world police has been arrested along with his gang. The Japan PSB involved will be examined as a witness in court next week, reportedly the police will give you 3,000 dollars for your achievement of arresting this smuggling syndicate {Berkat dia,mafia penyelundup Al quran yang selama ini menjadi buronan kepolisian dunia berhasil ditangkap bersama komplotannya. PSB Jepang yang terlibat akan diperiksa sebagai saksi dalam persidangan minggu depan, Kabarnya polisi akan memberikanmu 3.000 dolar atas pencapaianmu meringkus sindikat penyelundupan ini } Kata Kepala Divisi CIA.

“Alhamdulillah......Ternyata namamu cocok ya, pembawa Rezeki !” Seru orang tuaku.

“ Thanks sir, “ Ucap terima kasihku kepada Kepala Divisi CIA.

“Your welcome, good boy” Kata Kepala Divisi CIA.

Setelah itu, kami pun pulang ke Indonesia. Di Indonesia, KBRI didampingi oleh Kapolri dan Sekjen Badan Intellijen Negara { BIN }telah menantikanku. Kami disambut hangat layaknya tamu penting negara, mungkin kalau aku tidak melakukan kekacauan ini aku, aku tidak bakalan ada disini. Badan Intellijen Negara { BIN } memberiku penghargaan dan mengharap kehadiranku di Badan Intellijen, mengingat umurku sudah pasti cukup untuk masuk dalam lembaga itu.

Setelah luka bakar dan luka tembakanku sembuh, aku kembali ke Pondok Pesantrenku. Di ponpes, aku menjadi bahan perbincangan karena berita sudah cepat menyebar bahkan sampai ke telinga wali santri pondok pesantren. Kulihat Al quran di Pondok pesantren sudah mulai diganti dengan yang baru, pastinya aku berharap bahwa Al quran itu tidak akan lagi ada kesalahan. Namun sehati hati kita dalam melakukan kegiatan, pasti ada kesalahan karena sejatinya kebenaran Hanya milik Alloh swt.

Aku diundang menuju sekretariat untuk menemui Sang Kyai Pondok. Di sekretariat, komite ponpes memarahiku habis habisan karena dituduh telah melakukan tindakan radikal dan mencemarkan nama baik pondok pesantren. Namun Sang Kyai justru menyuruhku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha untuk menenangkan Komite Ponpes, dan kuceritakan semua itu yang akhirnya membuat mereka percaya. Setelah menyelesaikan urusan itu, aku keluar sekretariat dan menuju ke kamar. Di tengah koridor aku berpapasan dengan Nina dan teman temannya, dia berhenti sejenak dan mengucapkan salam sambil tersenyum. Dan seketika teman temannya pada menyorakinya CIIIIEEEE.....CIIIIEEEE, aku pun membalas salamnya dan berulang kali mengucapkan tasbih. Subhanalloh.........Indah sekali ciptaaan Mu ini Ya Alloh.........

SELESAI


Post a Comment

6 Comments

close
Banner iklan disini